Minggu, 13 Oktober 2013

TEORI DASAR PRODUKSI FILM FIKSI DOKUMENTER : BENTUK FILM

BAGIAN II

PRINSIP - PRINSIP BENTUK FILM 

1. Fungsi Bentuk

Bentuk berfungsi sebagai ‘anatomi’ dari cerita film mudah dipahami oleh penontonnya. Dikarenakan yang hendak disampaikan kepada penontonnya adalah pesan atau informasi, maka fungsi lain dari bentuk adalah sebagai tempat bergulirnya cerita, artinya dengan adanya bentuk maka cerita dapat berjalan dan diharapkan pesan sampai di benak penontonnya.
  
2. Kemiripan / Pengulangan Dan Perbedaan / Variasi

Permasalahannya, informasi atau pesan yang disampaikan kepada penonton sangat banyak, sehingga penonton akan mudah lupa pesan apa saja yang sudah disampaikan dan apa tujuan tokoh dalam cerita film. Supaya penonton selalu ingat dengan selalu tujuan tokoh, maka pesan yang disampaikan haruslah selalu diulang, namun tentu saja ada caranya yaitu dengan menggunakan metode duplikasi dan bukan repetisi. Metode repetisi adalah pengulangan atau informasi adegan dalam sebuah film yang cara penyajiannya dibuat sama persis. Sedangkan metode duplikasi adalah pengulangan adegan atau informasi dalam sebuah film yang cara penyajiannya dibuat berbeda atau bisa juga menggunakan repetisi namun kandungan dramatiknya ditingkatkan. Untuk lebih jelasnya ada contoh sederhana, yaitu bila dalam sebuah film ada tokoh yang ingin ditunjukkan kebaikkannya sehingga penonton bisa bersimpati, maka pembuat filmnya harus memperlihatkan beberapa adegan yang dapat menguatkan karakter tokoh tersebut, misalnya pada adegan 1 dia menolong orang tua, pada adegan 3 dia tidak marah ketika ada seorang yang menghinanya, pada adegan ke 7 dia ikut memberikan sedekah kepada anak jalanan dan seterusnya. Adegan–adegan di atas merupakan metode duplikasi di mana inti dari penyajiannya adalah menunjukkan kebaikan hati tokohnya. Tetapi mengapa metode duplikasi lebih disarankan dibanding repetisi, sebab selain penonton bisa melihat perbedaan dari tiap adegan juga untuk memberikan variasi adegan agar penonton tidak merasa jenuh. Penonton bisa jadi merasa dibodohi bila apa yang sudah disampaikan sebelumnya, diperlihatkan lagi pada adegan–adegan selanjutnya.

3. Pengembangan Cerita

Pengembangan cerita wajib dilakukan oleh pembuat film, gunanya agar penonton tidak merasa alurnya berputar disitu-situ saja yang bisa membuat mereka meninggalkan bioskop. Terutama pada bagian eksposisi di mana permasalahan sang tokoh dipaparkan sehingga penontonnya bisa mengetahui lebih detil apa saja yang membuat tujuannya berubah.
 
4. Kesatuan / Ketidaksatuan
 
Sekali lagi bahwa bentuk film (cerita) adalah sebuah sistem, sehingga harus diingatkan lagi bahwa bentuk film tampak sebagai kesatuan yang utuh sehingga hubungan antar unsurnya jelas. Dikarenakan ketidaksatuan menyebabkan penonton akan kecewa ataupun bingung dengan penceritaannya. Misalnya, film Pink Floyd : The Wall (1981) karya Alan Parker, di mana untuk bisa memahami ceritanya harus membaca lirik lagu dari album The Wall (1979) karya band Pink Floyd, sehingga penonton yang tidak membaca lirik lagu sebelumnya maka akan sangat bingung dengan cerita film tersebut, sebab alurnya maju–mundur tanpa panduan yang jelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar