Minggu, 15 September 2013

FILM PENDEK : Buatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMI Makassar

Di bawah ini adalah beberapa film karya Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMI Makassar dan saya akan memberikan kronologis dari film-film tersebut.

1. LUKA TANPA DOSA


inilah film pertama karya mahasiswa Ilmu Komunikasi UMI, dimana dalam film ini menceritakan tentang pertemuan dua sejoli dalam satu universitas yang pada akhirnya menjalin suatu hubungan ( Pacaran ). Namun hubungan merekapun tak berjalan dengan baik sehingga mereka harus memutuskan hubungannya.

demikian kronologis singkat mengenai film tersebut. kalau kawan-kawan penasaran dan ingin menonton film ini, anda dapat menghubungi langsung sang sutradara nya. nih saya berikan nama facebook si sutradara nya itu..

klik disini ------> Al Amin


2. TERJEBAK MAYA


untuk kronologis nya, saya copy kata-katanya langsung dari kasetnya.

KRONOLOGI

Manto seorang mahasiswa semester V yang berjiwa sosial tinggi dan peka terhadap lingkungan sekitarnya, namun tingkah lakunya berubah 180 derajat ketika mengenal teknologi yang menghubungkannya lebih dekat kepada orang-orang yang baru dikenalnya. tetapi wahyu seorang sahabat mengingatkannya akan apa yang telah terjadi dalam diri manto.

demikian kronologis yang ada dalam film ini. untuk yang ingin menontonnya, saya sertakan nama facebook dan twitter sang sutradaranya.

Facebook klik di sini------> Akbar Gazali

Twitter klik di sini---------> Akbar Gazali


3. DIA ada


untuk yang satu ini, film nya..yah..boleh di bilang agak frontal. kenapa saya bilang frontal ? soalnya dalam film ini menceritakan tentang seorang pemuda dimana ia tidak percaya akan tuhan, dan menganggap semua yang ada di sekitarnya dapat dia ketahui dan di rasionalkan. namun tuhan berkata lain. sehingga tuhan memberikan bukti keberadaannya melalui cobaan-cobaan yang dialami nya.

bagi kawan-kawan yang penasaran dan ingin menontonnya, bisa hubungi sang produsernya di facebooknya

Facebook klik di sini--------> Zakiah Djumrah


demikian beberapa kronologis film karya Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMI Makassar


Sabtu, 14 September 2013

DASAR-DASAR JURNALISTIK TV



TIM LIPUTAN BERITA

            Keberhasilan redaksi pemberitaan berita sebuah stasiun televisi banyak bergantung kepada tim liputan beritanya. Sebab stasiun televisi tidak hanya menunggu berita yang datang tetapi harus mengejar berita, dan karenanya dibutuhkan seorang reporter. Tetapi selain berita stasiun televisi membutuhkan gambar, dan untuk itu diperlukan seorang juru kamera (camera person). Sebab keunggulan televisi dibandingkan media massa lainnya adalah bahwa khalayak bisa melihat peristiwa yang terjadi, karena berita yang dibacakan didampingi adanya gambar. Bagi televisi gambar adalah segalanya, dan tidak ada yang lebih buruk bagi seorang reporter televisi jika ia datang ke kantor tanpa membawa gambar yang bisa menunjang berita yang akan ditulisnya. Terlebih bila stasiun televisi lain justru memiliki gambar tersebut.
            Kredibilitas stasiun televisi akan turun drastis bahkan hanya dalam satu malam, bila tim liputannya gagal mendapatkan gambar dari suatu peristiwa penting. Terlebih bila kegagalan itu terjadi karena pada saat itu tidak ada juru kamera yang siap. Koordinasi antara reporter dan juru kamera terkadang menjadi masalah dalam suatu liputan. Misalnya si reporter sudah siap berangkat namun juru kamera belum ada, atau sebaliknya.
             Keberhasilan bagian pemberitaan stasiun televisi banyak bergantung kepada reporter dan juru kamera yang ada di lapangan serta korlip di ruang redaksi yang mengarahkan mereka. Namun kemampuan produser dan eksekutif produser dalam menyusun acara juga tak kalah penting. Struktur organisasi bagian pemberitaan televisi biasanya terdiri dari sejumlash jabatan, seperti direktur pemberitaan (news director), eksekutif produser, produser, koordinator liputan (korlip), reporter, juru kamera, driver, dan lain lain.
            Namun efektifitas peliputan berita redaksi pemberitaan sebuah stasiun televisi sebagian besar bergantung kepada mereka yang bekerja di lapangan –tim liputan—yang terdiri dari para reporter dan juru kamera. Ujung tombak dari suatu program berita stasiun televisi adalah tim liputan berita. Kerjasama yang baik antara reporter dan juru kamera dalam sebuah tim liputan akan menentukan kualitas berita yang dihasilkan atau disampaikan kepada khalayak. Reporter dan juru kamera harus bekerja sama sebagai satu tim kerja.

Tugas dan Tanggung Jawab Reporter
            Redaksi pemberitaan stasiun televisi membutuhkan wartawan atau reporter televisi untuk program beritanya. Profesi sebagai reporter atau wartawan televisi tidak diperuntukkan bagi orang-orang yang berjiwa lemah. Sebab profesi ini membutuhkan stamina yang baik dan motivasi kerja yang tinggi. Seorang reporter televisi harus memiliki kegigihan dalam mengejar berita, cepat dan sigap dalam bekerja, mau bekerja keras, bersedia tetap bekerja dan masuk kantor pada hari libur, dan siap berangkat setiap saat dan kapanpun dibutuhkan ke lokasi liputan. Jadi profesi ini tidak cocok bagi orang-orang yang bermental pegawai kantoran dengan jadwal kerja teratur; masuk kantor pukul 8 pagi dan pulang pukul 5 sore.
            Seorang wartawan/reporter televisibekerja secara cepat dalamhal mengumpulkan informasi, menentukan lead sekaligus angle berita, kemudian menulis berita dan melaporkannya baik secara langsung (live) ataupun direkam dalam bentuk paket berita yang akan disiarkan kemudian. Perkembangan teknologi yang cepat dalam pengiriman gambar dan suara (electronic news-gathering techniques) mengharuskan wartawan televisi untuk bekerja lebih cepat pula. Ia harus segera berangkat ke lokasi liputan, mengumpulkan informasi di lapangan, menentukan angle dan lead berita, kemudian melaporkannya baik secara langsung di depan kamera, maupun kepada redaksi pemberitaan untuk kemudian bisa dibuat menjadi sebuah paket berita televisi. Dalam hal ini seorang reporter yang memiliki ingatan yang kuat  dan bisa langsung tampil secara live dengan berbicara secara lancar dan teratur di depan kamera meski tanpa persiapan yang cukup, mendapat kredit poin tersendiri.
            Seorang reporter (selanjutnya kita sebut wartawan) televisi terkadang harus meliput berita-berita kriminal atau bencana dan harus mengunjungi lokasi musibah atau tempat terjadinya tindak kejahatan. Lokasi berita kriminal seperti ini terkadang dipenuhi mayat yang hancur atau berserakan dengan ceceran darah ada di mana-mana. Dalam hal ini reporter televisi harus memiliki emosi dan kondisi psikis yang stabil agar ia bisa menghadapi kondisi lapangan yang seperti itu untuk kemudianmelaporkannya. Seorang reporter televisi tidak boleh bersikap emosional dan mudah terbawa perasaan karena menyaksikan situasi di mana ia berada saat itu. Seorang reporter televisi dituntut untuk tetap objektif dan berpikir jernih apapun situasi yang tengah dihadapinya.
            Wartawan televisi terkadang ditempatkan di suatu pos tertentu untuk liputannya. Misalnya di kantor polisi, pemda setempat, pengadilan, dll. Wartawan ada pula yang ditugaskan untuk khusu meliput berita-berita yang terkait dengan bidang kesehatan, ekonomi, olahraga, ilmu pengetahuan dan teknologi, dll. Semuanya merupakan liputan dari peristiwa yang langsung jadi (on-the-spot news coverage). Namun beberapa wartawan ada yang ditugaskan melakukan investigative reporting yang biasanya membutuhkan waktu beberapa hari atau minggu untuk mengumpulkan indormasi tergantung dari topik yang dibahas. Tugas penyelidikan semacam ini terkadang dapat menimbulkan bahaya.    
            Stasiun televisi juga terkadang mengirimkan wartawannya untuk meliput kawasan yang bergolak, misalnya perang atau kerusuhan sosial. Wartawan terkadang harus menghadapi bahaya ketika melakukan laporan langsung di wilayah yang tidak aman. Dalam hal ini wartawan harus belajar bagaimana untuk bermanuver melewati berbagai situasi yang sulit untuk menemukan informasi yang berharga.
            Wartawan televisi seperti juga wartawan radio adalah wartawan penyiaran (broadcast reporter). Mark W. Hall dalam bukunya Broadcast Journalism menyebutkan bahwa wartawan penyiaran adalah: “... a newsperson who works for a radio or television”. Jadi wartawan penyiaran adalah seseorang yang bekerja untuk stasiun radio atau televisi, termasuk para reporter televisi, yang membuat suatu karya jurnalistik yang akan disiarkan melalui media radio atau televisi. Sebagai wartawan penyiaran khususnya televisi, ia harus membekali dirinya dengan pengalaman dan pengetahuan yang luas melalui latihan-latihan peliputan yang intensif (mendalam) dan juga mengetahui benar (paham) mengenai sifat- sifat media penyiaran dalam hal ini televisi.
            Selain harus kreatif, dalam arti mengetahui benar peristiwa-peristiwa yang memiliki nilai jurnalistik, seorang reporter televisi harus memahami ilmu jurnalistik. Wartawan televisi yang baik adalah seseorang yang juga mampu menjadi penyaji berita yang baik. Dalam hal ini ia tidak saja dituntut untuk dapat menulis berita dengan baik dan benar, tapi ia juga dapat menyampaikan berita dengan ucapan kata-kata yang baik di depan kamera, lengkap dengan mimik dan ekspresi yang menunjang (memiliki body languange). Dalam hal ini seorang reporter televisi dituntut juga untuk dapat menjadi seorang penyiar (news caster).
            Meski seorang reporter dan juru kamera harus bisa bekerja sama sebagai satu tim kerja, namun pada akhirnya reporterlah yang bertanggung jawab atas hasil liputan yang dilakukan; sebauh paket berita akhir. Oleh karena itu reporter harus mengarahkan juru kamera agar mendapatkan semua gambar (shots dan sequences) yang dibutuhkan untuk mengilustrasikan berita yang akan disajikan. Pada sebagian besar peliputan berita, reporter adalah juga seorang produser dan sutradara yang memiliki tugas ganda, yaitu :
  1. Memastikan bahwa juru kamera mendapatkan semua news shot (gambar berita) yang ia butuhkan untuk penyampaian laporan berita.
  2. Mengumpulkan informasi faktual selengkap-lengkapnya sebagai bahan untuk menulis berita (voice over).
Seiring dengan kemajuan teknologi belakangan ini, beberapa stasiun televisi telah menjajaki jurnalisme foto –di mana reporter merekam gambarnya sendiri—artinya seorang reporter juga mampu mengoperasikan kamera dan melakukan pengambilan gambar secara baik dan benar. Stasiun televisi di negara maju bahkan telah menerapkan konsep “video journalist” (VJ), dimana reporter juga bertindak sebagai juru kamera yang mampu merekam gambarnya sendiri, bahkan mengedit sendiri materi beritanya hingga siap tayang. Dengan demikian reporter bertindak sebagai juru kamera dan editor.
Terlepas dari apakah stasiun televisi tempat anda bekerja nantinya telah menerapkan pendekatan itu atau belum, seorang reporter harus tetap bisa memahami tugas  juru kamera, demikian pula sebaliknya. Keduanya harus saling memahami tugas dan tanggungjawab masing-masing saat bekerja. Seorang reporter harus memahami kemampuan dan keterbatasan kamera agar ia bisa bekerja secara efektif. Komunikasi adalah kunci efektivitas ketika melakukan shooting di lokasi.

Tugas dan Tanggung Jawab Juru Kamera
Juru kamera (camera person) bertanggung jawab atas semua aspek teknis pengambilan dan perekaman gambar. Seorang juru kamera harus memastikan bahwa tidak ada kesalahan yang dilakukannya ketika ia mengambil gambar. Ia harus memastikan bahwa gambar yang diambilnya sudah tajam (fokus), komposisi gambar (framing) yang sudah tepat, pengaturan level atau tingkat suara sudah sesuai, warna gambar yang sesuai dengan warna aslinya (natural) dan ia telah mendapatkan gambar (shots) yang terbaik.
Seorang juru kamera tidak hanya dituntut untuk dapat mengambil gambar dengan baik, tetapi ia juga harus memahami gambar apa saja yang diperlukan bagi suatu berita televisi. Seorang juru kamera yang kemampuannya baru sebatas dapat mengoperasikan kamera saja belumlah dapat dikategorikan seorang juru kamera berita telebisi. Siapapun dapat menggunakan kamera, tetapi tidak semua orang dapat menjadi juru kamera yang baik tanpa terlebih dulu mempelajari landasan teorinya.
Lalu apa landasan teori yang perlu diketahui seseorang sebelum ia dinyatakan siap menjadi juru kamera?
Profesionalisme seorang juru kamera televisi dalam mengambil gambar dinilai ketika gambar hasil karyanya diperiksa sebelum diedit di ruang editing. Pengetahuan dasar mengenai teknik editing gambar mutlak harus diketaui oleh seorang juru kamera. Pemahaman teknik editing sangatlah penting bagi juru kamera sebagai dasar baginya untuk mengambil gambar. Banyak kalangan jurnalis berpendapat, seseorang harus belajar mengedit hambar terlebih dahulu sebelum ia terjun dan bekerja sebagai juru kamera. Jika editor banyak mengeluhkan gambar yang disediakan juru kamera maka besar kemungkinan juru kamera tersebut belum memiliki pengetahuan dasar mengenai prinsip-prinsip mengambil gambar yang baik dan benar.
Di ruang editing gambar-gambar yang diambil juru kamera harus dilihat kembali, dipilih dan kemudian digabungkan oleh penyunting gambar ke dalam suatu struktur yang saling bertautan, logis, dan masuk akal. Hasil editing harus dapat menjelaskan berita yang disampaikan secara visual sesuai dengan durasi waktu yang telah ditetapkan. Juru kamera harus menyediakan gambar-gambar yang dibutuhkan oleh editor gambar. Apa yang dibutuhkan editor gambar tidak sekedar gambar utama tetapi juga gambar penunjang, juru kamera yang mengambil begitu banyak shot tanpa menunjukkan hubungan yang jelas antara berbagai shot itu, maka sebenarnya ia hanya akan memberikan persoalan kepada editor gambar.
Pada dasarnya teknik pengambilan gambar untuk setiap jenis liputan adalah sama saja, apakah dalam pengambilan gambar untuk berita singkat, liputan khusus, atau membuat film dokumenter. Dalam liputan olah raga, misalnya pada suatu pertandingan sepak bola, maka juru kamera akan lebih banyak menggunakan teknik pengambilan gambar yang merupakan gabungan antara wide shot, yaitu sudut pengambilan gambar yang melebar, dan pengambilan gambar close up.
Dalam pertandingan sepak bola kamera akan banyak mengambil gambar-gambar selingan (cutaway) ke arah pelatih atau manajer sepak bola yang bertanding, shot ke penonton, dan gambar-gambar slow motion untuk replay gambar. Liputan langsung pertandingan sepakbola membutuhkan lebih banyak kamera yang diletakkan di berbagai posisi strategis di stadion. Selain itu beberapa kamera perlu diletakkan pada posisi yang lebih tinggi agar diperoleh gambar yang lebih baik.
Teknik yang sama dibutuhkan pula dalam liputan konser musik namun dengan tingkat pergerakan kamera, --seperti pan dan zoom-- yang berbeda, tergantung dari alunan musik yang dimainkan saat itu. Juru kamera akan lebih bebas lagi ketika mengambil gambar untuk membuat video musik. Bisa dikatakan tidak ada peraturan yang membatasi kreativitas juru kamera dalam mengambil gambar untuk pembuatan video musik. Pada dasarnya teknik pengambilan gambar merupakan upaya juru kamera untuk menerjemahkan suatu peristiwa yang dilihatnya yang mungkin saja cenderung subjektif. Namun tingkat subjektifitas ini tergantung pada program macam apa yang tengah dikerjakan. Misalnya apakah liputan itu lebih menekankan pada fakta, misalnya kecelakaan atau bencana alam, atau lebih menekankan pada nilai artistik, misalnya dalam liputan konser musik atau hiburan.
Terkadang posisi pengambilan gambar yang baik sangat bergantung pada kecepatan juru kamera tiba di lokasi peristiwa. Kemampuan tim untuk segera tiba di lokasi peristiwa adalah faktor penting dalam kesuksesan suatu liputan. Peristiwa yang berifat darurat (civil emergencies) seperti banjir, kecelakaan transportasi, kebakaran, atau peristiwa kriminalitas adalah peristiwa yang dapat muncul setiap saat, namun biasanya akan cepat pula menghialng dari pemberitaan. Liputan seperti ini tidak berumur panjang karena cepat dilupakan orang. Namun demikian dibutuhkan tim liputan yang dapat bergerak cepat ke lokasi agar diperoleh gambar terbaik dari peristiwa itu. Peralatan kamera harus segera dapat digunakan dan juru kamera harus bergerak cepat dalam mengambil gambar.
Salah satu prinsip dalam pengambilan gambar yang benar adalah tidak boleh terlalu banyak meninggalkan ruangan kosong pada layar. Teknik yang perlu diterapkan saat mengambil gambar adalah tidak banyak membuat ruang kosong pada layar dengan menggunakan metode komposisi. Satu dari metode komposisi yang paling sederhana disebut Trianggulasi, dimana pusat perhatian ditempatkan pada puncak suatu segitiga dengan bagian-bagian penting lainnya berada pada dasar segitiga itu.
Metode komposisi lainnya disebut Golden Mean. Metode ini menyatakan apabila layar telebisi dibagi menjadi tiga bagian, baik secara horisontal dan vertikal, maka empat titik pertemuan dari garis horizontal dan vertikal itu merupakan empat titik yang akan menjadi pusat perhatian penintit paling kuat. Sebagai peraturan umum, komposisi gambar harus berada dalam posisi mantap ketika rekaman gambar berlangsung.
Reporter dan juru kamera harus memiliki pengetahuan tentang teknik pengambilan gambar agar gambar tampak bagus. Setiap ghambar harus memberikan pesan yang jelas dan tidak membiarkan pemirsa bertanya-tanya apa yang menjadi topik perhatian dari suatu gambar yang ditampilkan.

Kerjasama Reporter, Juru Kamera, dan Editor
Seorang juru kamera yang baik akan selalu menyempatkan diri untuk melihat hasil editing gambar hasil karyanya. Ketika melihat hasil editing, juru kamera terkadang kecewa karena editor tidak memasukkan gambar-gambar yang menurut juru kamera adalah gambar yang bagus. Menurut juru kamera hasil kerja editor tidak bagus karena tidak mengambil gambar terbaik yang telah diambilnya dengan susah payah. Persoalannya adalah editor tidak mengetahui apakah suatu shot itu merupakan shot yang sulit. Penyunting gambar tidak berada di lokasi untuk mengetahui bahwa suatu gambar telah direkam dengan susah payah, sehingga karena itu ia tidak memberikan apresiasinya terhadap pekerjaan juru kamera.
Terkadang juru kamera merekam gambar yang panjang, dibutuhkan dua kaset untuk mengambil seluruh gambar. Juru kamera kembali mengeluh karena gambar yang bagus di ujung kaset kedua tidak digunakan dan ediitor hanya menggunakan gambar dari kaset pertama. Di sinilah terlihat bahwa editor, juru kamera dan tentu saja reporterharus saling berkomunikasi agar terjalin saling pengertian. Reporter dan juru kamera perlu memberi tahu penyunting gambar mengenai gambar-gambar terpenting dan yang paling dramatis yang perlu diambil editor ketika ia menyunting gambar tersebut.  
Beberapa stasiun televisi belakangan ini mulai memperkenalkan apa yang disebut dengan Portable Field Editor, khususnya dalam pembuatan majalah berita televisi (news and magazine coverage) yang tidak mengenal lagi perbedaan antara editor dan juru kamera. Dalam hal ini tidak dikenal lagi pembagian kerja dimana juru kamera atau reporter menyerahkan hasil shot yang dibuatnya kepada orang lain untuk dikerjakan setelah tim liputan pulang dari lokasi. Dengan cara ini maka juru kamera adalah editor, dan editor adalah juru kamera. Prioritas seorang juru kamera dan prioritas seorang editor berada di satu tangan. Juru kamera bisa saja mengambil gambar-gambar favorit sepuasnya karena sebagai editor ia yakin gambar itu akan dapat dugunakannya dalam proses penyuntingannya nanti.                        

METODE PENELITIAN KOMUNIKASI (analisis framing)



1.     KONSEP FRAMING
            Analisis framing versi terbaru dari pendekatan wacana, khususnya untuk menganalisis teks media. Dan yang pertama kali melontarkan tentang framing adalah Beterson 1955 (Sudibyo 1999 : 23). Mulanya frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan dan wacana serta menyediakan kategori – kategori standar untuk mengapresiasi realitas.
            Dalam ranah studi komunikasi, mewakili analisis tradisi yang mengedepankan pendekatan atau perspektif multidisipliner untuk menganalisis fenomena atau aktifitas komunikasi. Konsep framing adalah murni konsep ilmu komunikasi, akan tetapi di pinjam oleh ilmu kognitif  (psikologi). Dalam praktiknya, analisis framing juga membuka peluang untuk implementasi konsep sosiologi, politik dan cultural untuk menganalisis fenomena komunikasi.
Ilmu ini bekerja didasarkan pada fakta bahwa konsep ini bisa ditemui di berbagai literatur lintas ilmu sosial dan ilmu perilaku. Secara sederhana, analisis bingkai mencoba untuk membangun sebuah komunikasi bahasa, visual, dan pelaku dan menyampaikannya kepada pihak lain atau menginterpretasikan dan mengklasifikasikan informasi baru. Melalui analisa bingkai, kita mengetahui bagaimanakah pesan diartikan sehingga dapat diinterpretasikan secara efisien dalam hubungannya dengan ide penulis.   
            Dalam perspektif  komunikasi, framing digunakan untuk membedah cara atau  ideology media saat mengkonstruksi fakta. Dengan kata lain framing di gunakan untuk mengetahui bagaimana cara pandang wartawan dalam menyeleksi isu dan menulis berita. Dalam konsep psikologis, framing dilihat sebagai penempatan informasi dalam konteks yang unik. Dalam konsep ilmu lain konsep framing terkesan tumpang tindih, fungsi frame kerap dikatakan sebagai struktur internal dalam pikiran dan perangkat yang dibangun dalam wacana politik.

      2. TEKNIK FRAMING
            Secara teknis sangat tidak mungkin seorang jurnalis memframing seluruh bagian berita, atau dalam kata lain hanyalah berita yang terpenting yang akan menjadi objek framing jurnalis. Framing dalam berita dilakukan dengan empat cara:
·         Identifikasi Masalah
·         Identifikasi Penyebab Masalah
·         Evaluasi Moral
·         Saran Penaggulangan Masalah
Menurut Abrar (2000:73) menyebutkan bahwa pada umumnya  ada empat teknik memframing berita yang digunaka oleh wartawan 1)Cognitive Dissonance (ketidaksukaan sikap dan perilaku), 2)empati (membentuk “pribadi khayal”), 3)Packing (daya tarik yang melahirkan ketidakberdayaan), 4)Assosiasi (menggabungkan kondisi, kebijakan dan objekyang sedang actual dengan focus berita).Dan sekurangnya ada tiga bagian yang menjadi objek framing seorang wartawan, yaitu ; judul berita, focus berita dan up berita.
            Analisis framing bisa dilakukan dengan bermacam-macam focus dan tujuan. Pendekatan framing di bagi menjadi dua :
 a) Pendekatan Kultural
Meliputi identifikasi dan kategorisasi terhadap penanggulangan, penempatan, asosiasi, dan penajaman kata, kalimat dan proposisi tertentu dalan suatu wacana.
b) Pendekatan Individual
Frame dalam level individu menimbulkan konsekuensi bahwa untuk tujuan tertentu, studi framing tidak bisa hanya dilakukan dengan analisis isi terhadap teks media. Menurut Sudibyo ( 1999:42 ) analisis framing terhadap skemata individu bisa dilakukan dengan polling atau wawancara komprehensif.

      3. MODEL FRAMING
            Ada dua model framing yang sering digunakan:

A.    Model Zhongdang Pan dan Gerald M. kosicki
Melalui tulisan “a framing analysis: An approach to New Discourse” meng-opersionalisasikan empat dimensi structural teks berita sebagai perangkat teks framing: sintaksis, skrip, tematik dan retoris yang membentuk semacam tema yang mempertautkan elemen-elemen semantic berita dalan koherensi global. Model ini berasumsi bahwa setiap berita memiliki frame berfungsi sebagai pusat organisasi berita. Dalam pendekatan ini framing di bagi menjadi 4 struktur besar :
1.      Struktur Sintaksis
Bisa diamati dari bagan berita yang meliputi cara wartawan menyusun.
berita. Struktur sintaksis memiliki perangkat:
a.       Headline merupakan berita yang dijadikan topik utama oleh media.
b.      Lead (teras berita) merupakan paragraf pembuka dari sebuah berita yang biasanya mengandung kepentingan lebih tinggi. Struktur ini sangat tergantung pada ideologi penulis terhadap peristiwa.
c.       Latar informasi
d.      Kutipan
e.       Sumber
f.       Pernyataan
g.      Penutup
  1. Struktur Skrip
Skrip adalah cara wartawan mengisahkan fakta. Melihat bagaimana strategi bertutur atau bercerita yang digunakan wartawan dalam mengemas berita.
      Struktur skrip memfokuskan perangkat framing pada kelengkapan berita :
a.       What (apa)
b.      When (kapan)
c.       Who (siapa)
d.      Where (di mana)
e.       Why (mengapa)
f.       How (bagaimana)
  1. Struktur Tematik
Bagaimana seorang wartawan mengungkapkan suatu peristiwa dalam proposisi, kalimat atau hubungan antar kalimat yang membentuk teks secara keseluruhan.
a.       Struktur tematik mempunyai perangkat framing:
b.      Detail
c.       Maksud dan hubungan kalimat
d.      Nominalisasi antar kalimat
e.       Koherensi
f.       Bentuk kalimat
g.      Kata ganti
  1. Struktur Retoris
Bagaimana seorang waratawan menekankan arti tertentu atau dalam kata lain penggunaan kata, idiom, gambar dan grafik yang digunakan untuk memberi penekanan arti tertentu. Struktur retoris mempunyai perangkat framing :
a.       Leksikon/pilihan kata
Perangkat ini merupakan penekanan terhadap sesuatu yang penting.
b.      Grafis
c.       Metafor
d.      Pengandaian

B.     Gamson dan Modigliani
Didasarkan pada pendekatan konstruksionis yang melihat representasi media, berita dan artikel, terdiri atas Package Interaktif yang mengandung konstruksi makna tertentu. Dalam Package Interaktif terdapat dua struktur :
a.      Core Frame
Merupakan pusat organisasi elemen-elemen ide yang membantu komunikator menunjukkan substansi isu yang dibicarakan.
b.      Condensing Symbol
Memiliki dua struktur framing devices dan reasoning devices. Framing Devices mencakup methapore, exemplar, cathcpharses, deceptions dan visual image yang menekankan pada bagaimana “melihat” aspek suatu isu atau berita. Sedangkan Reasoning Devices menekankan  aspek pembenaran terhadap cara “melihat” isu, yakni roots dan appeals to principle.




4. Model Proses Framing
Proses analisis ini dibagi menjadi empat bagian :
A.    Frame Bulding (Bangunan Bingkai/Frame)
Studi ini mencakup tentang dampak faktor-faktor pengendalian diri terhadap organisasi, nila-nilai profesional dari wartawan, atau harapan terhadap audien terhadap bentuk dan isi berita. Studi ini belum mampu menjawab bagaimanakah media dibentuk atau tipe pandangan/analisis yang dibentuk dari proses ini. Oleh karena itu, diperlukan sebuah proses yang mampu memberikan pengaruhnya terhadap kreasi atau perubahan analisa dan penulisan yang diterapkan oleh wartawan.
Frame bulding meliputi kunci pertanyaan: faktor struktur dan organisasi seperti apa yang mempengaruhi sistem media, atau karakteristik individu wartawan seperti apa yang mampu mempengaruhi penulisan sebuah berita terhadap peristiwa.
Faktor kedua yang mempengaruhi penulisan berita adalah pemilihan pendekatan yang digunakan wartwan dalam penulisan berita sebagai konsekuensi dari tipe dan orientasi politik, atau yang disebut sebagai “rutinitas organisasi”. Faktor ketiga adalah pengaruh dari sumber-sumber eksternal, misalnya aktor politik dan otoritas.

B.     Frame setting (Pengkondisian Framing)
Proses kedua yang perlu diperhatikan dalam framing sebagai teori efek media adalah frame setting. Para ahli berargumen bahwa frame setting didasarkan pada proses identivikasi yang sangat penting. Frame setting termasuk salah satu aspek pengkondisian agenda (agenda setting). Agenda setting lebih menitikberatkan pada isu-isu yang menonjol/penting, frame setting, agenda setting tingkat kedua, yang menitikberatkan pada atribut isu-isu penting. Level pertama dari agenda setting adalah tarnsmisi objek yang penting, sedangkan tingkat kedua adalah transmisi atribut yang penting.
Namun, Nelson dalam Scheufele (1999:116) menyatakan bahwa analisa penulisan berita mempengaruhi opini dengan penekanan nilai spesifik, fakta, dan pertimbangan lainnya, kemudian diikuti dengan isu-isu yang lebih besar, nyata, dan relevan dari pada memunculkan analisa baru.

C.    Individual-Level Effect of Farming (Tingkat Efek Framing terhadap Individu)
Tingkat pengaruh individual terhadap seseorang akan membentuk beberapa variabel perilaku, kebiasaan, dan variabel kognitif lainnya telah dilakukan dengan manggunakan model kota hitam (black-box model). Dengan kata lain, studi ini terfokus pada input dan output, dan dalam kebanyakan kasus, proses yang menghubungkan variabel-variabel kunci diabaikan.
Kebanyakan penelitian melakukan percobaan pada nilai keluaran framing tingkat individu. Meskipun telah memberikan kontribusi yang penting dalam menjelaskan efek penulisan berita di media dalam hubungannya dengan perilaku, kebiasaan, dan variabel kognitif lainnya, studi ini tidak mampu menjelaskan bagaimana dan mengapa dua variabel dihubungkan satu sama lain.

D.    Journalist as Audience (Wartawan sebagai Pendengar)
Pengaruh dari tata mengulas berita pada isi yang sama dalam media lain adalah fungsi beragam faktor.  Wartawan akan lebih cenderung untuk melakukan pemilihan konteks. Di sini, diharapkan wartawan dapat berperan sebagai orang yang mendengarkan analisa pembaca sehingga ada timbal balik ide. Akibatnya,  analisa wartawan tidak serta merta dianggap paling benar dan tidak terdapat kelemahan.
Framing sebagai teori efek media membutuhkan konsep proses model dari pada terfokus pada input dan output. Oleh karena itu, penilitian masa depan harus mengakomodasi empat kunci di atas. Model proses diharapakan menjadi acuan kerja masa depan yang secara sistematis mampu memberikan pemecahan terhadap isu-isu framing dan melakukan pendekatan detail dalam teori yang koheren.